Sabtu, 23 Mei 2015

Jalan lubang-lubang

Aku sering melewati ini
Aku hafal dimana lubang-lubang yang tidak harus aku lewati
Tapi aku selalu memaksa melewatinya
Tidak peduli jika kemungkinan aku akan terjatuh
Tidak peduli jika akhirnya harus ada darah di bagian tubuhku
Mengapa tidak melewati jalan yang sudah tertata bagus?
Berjalanlah perlahan, tidak usah terburu-terburu
Dimanapun akan tersesat, kamu akan kembali pulang.
Berhenti melewati jalan itu?
Atau memang sengaja menunggu jalan itu diperbaiki?
Lama, tapi bukankah ada jalan lain yang jauh lebih baik?
Iya, mungkin hanya belum terbiasa saja.
Tapi dia tidak akan membuat jatuh dan terluka.



Jumat, 22 Mei 2015

Aku ingin menjadi langit

Aku ingin menjadi langit
Agar suasana hatiku dapat terlihat oleh penghuni jagat raya ini.
Ketika aku terbangun, terbitlah matahari.
Ketika aku bahagia, hadirlah langit biru.
Ketika aku gundah, awan berganti abu.
Ketika aku sedih, mendung pun menggelayut.
Ketika aku menangis, hujan menyelimuti tanah.
Ketika aku marah, petir pun beradu dengan kilat.
Dan ketika aku lelah, malam menyelimuti mata.

Aku memiliki awan yang selalu hitam disana. Tak jarang selalu mengeluarkan petir juga kilatnya.
Namun, aku ingin selalu membuatnya luluh akan pelukku. Menjadikannya teman bagi matahari.
Dia tau dirinya tak bersahabat dengan awan putih. Tapi, suatu saat, ia akan membersihkan dirinya dari kegelapan yang selalu menyelimuti hati dan pikirannya. 
Dan menjadi awan yang berarti.

Aku ingin hidup dengan laki-laki yang ku cinta, meskipun aku tak tau bagaimana perasaan yang sesungguhnya padaku.

Aku tak peduli bila aku harus egois karena cinta dan keegoisanku akan membuat aku terus memperjuangkan cintaku dan terus berjuang hingga ia sadar betapa aku mencintainya.
Aku terlihat bodoh tapi itulah aku. Sampai kapan pun akan kukejar meskipun di tengah mendung. Aku akan menyulapnya menjadi awan putih, menemani tawaku dalam kesendirian.

-NazHameed-