Jumat, 14 Maret 2014

Papa:')

Hai pa, mungkin papa engga akan pernah baca ini.
Riris kecewa harus hidup ditengah keluarga ini, menyesal. Bukan karna hidup kita biasa-biasa aja dan engga bergelimang harta, bukan pa.
Riris sedih, harus hidup dimana kedua orang yang terdekat riris berbeda.
Kenapa papa engga lahir sebagai umat kristiani seperti bunda?
Riris bingung pa, kadang riris mikir riris engga ada guna buat papa.
Apa karna riris beda, apa karna riris beda engga kayak papa.
Kadang riris sempet benci banget sama papa, engga pernah papa kasih cinta sesikit buat riris. Riris ada papa, tapi berasa riris cuma punya bunda aja.
Papa sayang sama riris engga? Riris sayang pa sayang banget. Riris engga bisa liat papa sedih. Terimakasih pa untuk waktunya 19th ini papa udah bersusah payah ngerawat, ngedidik riris jadi kayak gini.
Jangan pernah pergi pa. Bahagiain kami selagi papa masih ada waktu, selagi kami juga masih berpijak di bumi ini.
Kala nanti papa pergi buat selamanya, bilang sama tuhanmu ya pa, tolong terima doaku untukmu agar hisupmu bisa tenang di surga. Aku engga bisa baca ayat-ayat yang biasa diajarkan di agamamu. Tapi kalau tuhanmu mengijinkan akan kubawa namamu dalam setiap helaan nafas dan setiap langkah dalam jalanku di doaku.
Aku berharap bisa mendahuluimu pa. Agar aku tdk merasa bersalah karna tdk bisa mendoakan lewat ayat sucimu.
Pa, tdkah kau lihat air mataku. Aku ingin papa disini memelukku, mengusap rambutku. Tdk usah berkata apa-apa pa, aku tdk ingin mendengar apapun penjelasanmu. Aku ingin kau disini menyayangiku, membahagiakan bundaku. Begitu beratkah permintaanku? Hingga kini kau entah ada dimana? Maaf pa maaf, aku terlalu cerewet terlalu banyak bicara. Maafkan aku, aku yang tidak bisa seperti yang kau ingini ini berharap keluarga kita bisa bahagia. Kala dulu kala semuanya baik-baik saja.

Rabu, 05 Maret 2014

Pupus

Bukan karena patah harapan ku. Atau telah hilang semangatku.
Aku masih disini, menunggu.
Mungkin tak lagi kau dengar sanjunganku, lelahku di media sosialmu.
Mungkin tak lagi kau lihat segala kegalauanku yang biasa ku umbar untuk menunjukkan agar kau tau apa yang sebenarnya ku rasa.
Tak semua kau tau. Tak semua apa yang kau baca, kau lihat, atau kau dengar itu sama. Pandang aku sampai kedalaman hatiku. Coba perhatikan tak ada satupun celah tersisa tanpa adanya namamu.
Aku tak beranjak pergi ataupun menjauh. Aku tinggal disini, tak bergeser secentipun. Entah, apa yang membuatku bertahan sejauh ini. Entah, betapa hebatnya rasa yang sudah tercipta hingga aku tak mau enyah.
Tapi, aku diam. Tak ingin banyak cakap. Tak ingin melakukan yang tak seharusnya. Biarlah Tuhan menulis semauNya. Biar Dia yang mengukir indah ceritamu dan ceritaku kala nanti.
Aku belajar banyak. Saat kamu mulai diam dan ingin aku tau yang sebenarnya, begitupun aku sebaliknya. Aku mencoba belajar apa yang kamu lakukan padaku. Rasaku ini akan kusimpan hingga saatnya nanti, saat yang di putuskan Tuhan dan menyuruhku pergi. Saat nanti, saat aku telah lelah melihatmu bersama yang lain. Saat nanti, saat dimana kamu tak lagi memandangku ada. Nanti.