Rabu, 06 Agustus 2014
Tak Apalah, itu indah
Karna dipertemukan Tuhan denganmu adalah sesuatu yang membuatku menunggu.
Disini di pintu aku biasa menunggumu. Tapi tak akan lagi.
Tak apalah itu indah, pernah tertawa bersama itu anugerah.
Yang tak pernah
Sesuatu, tepatnya seseorang yang ku perjuangkan untuk memilikinya, yang ku tunggu dalam waktu yang tak sebentar, yang selalu ku sebut namanya dalam doaku di setiap lipatan tanganku. Yang kupasrahkan hingga aku memilih bahagianya. Yang selalu kupaksa untuk bisa bersamanya. Yang tak pernah berhenti membuatku membasahkan pipi. Yang tak pernah habis aku mengandaikan hidup bahagia bersamanya. Aku menyayangimu lebih sebelum tahun ini berganti. Maaf. Maaf membuatmu tidak nyaman. Aku masih disini, masih menunggumu. Bryan Adam
Seperti apa?
Bahagia?
Seperti apa. Saat melihat mereka tertawa bersama-sama.
Tersenyum-senyum sendiri. Mengandai-andai, andai aku dan dia itu mereka.
Andai itu bagaikan bahagia. Sesederhanakah itu?
Terbayangkan segalanya itu kita, kita yang tidak akan pernah menjadi kita. Hanya aku dan kamu.
Adakah cahaya, mengijinkan kita?
Kala itu inginkan kisah kita menjadi cerita indah. Kala nanti aku dan dirimu tiada.
Andai bisa terkenang. Menjadi kisah hebat untuk para pecinta.
Perjuangan yang tiada tara, kala semuanya tak akan bisa menyatu
Kala itu aku dan kamu pergi.
Kemanapun itu, aku dan dirimu menjadi satu kesatuan yang tak pernah utuh.
Kala jalan kepergian menjadi satu satunya jalan yang selalu di anggap paling baik. Kala menyerah menjadi satu satunya alasan untuk sebuah takdir. Dan kala perjuangan telah pada batasnya, hanya selamat tinggal saja.
Kala itu aku berdoa semoga di tempat terindah nanti kita di pertemukan tanpa adanya perbedaan.
BR-
Langganan:
Komentar (Atom)